Monday, April 16

Hatiku, Aku yang Tahu

karena temen-temen gue pada suka bikin cerita gue juga kelatahan nih pengen bikin cerita juga hehe. terinspirasi dari salah satu cerita di majalah, akhirnya gue bikin cerita yang sederhana ini. selamat membaca :) 

     Sudah satu tahun ini aku mengaguminya. Dia bernama Remazki Frale, nama yang indah bukan? Hihi, tapi dia biasa di panggil Ale. Aku tak pernah mengerti mengapa aku bisa mengaguminya, menurutku ini sudah bukan kagum, bagaimana bisa ini masih bisa di sebut kagum jika aku selalu menitikkan air mata jika mengingat kenangan tentangnya. Ya, ceritaku bukanlah cerita indah seperti di sinetron.

     Awal aku bertemu dengannya adalah di salah satu organisasi sekolah yaitu OSIS. Kami sama-sama anggota  dari organisasi tersebut. Awalnya kami hanya berteman biasa, tapi aku akui dia memang manis, tak jarang aku dan teman-temanku membicarakan dia. Sesekali aku dan dia mengobrol dan bercanda sambil menunggu di mulainya rapat OSIS. Dia pandai membuatku tertawa dengan leluconnya yang tidak jelas, tak jarang dia pun ikut tertawa bersamaku, dan aku sangat menyukai caranya tertawa. Semenjak kami sering saling bercanda, aku mulai menyukainya, tapi hanya suka biasa, sengaja tidak ku pupuk perasaanku karena aku sadar kecil kemungkinan aku bisa bersamanya. Kami sering mengobrol di beberapa jejaring sosial di dunia maya seperti facebook dan twitter. Di dunia mayalah kami saling bertukar nomer handphone. Aku sangat nyaman dengan dia, walaupun kadang obrolan kami tidak jelas tapi aku senang, sangat senang.

     Suatu hari OSIS mengadakan acara bakti sosial, acaranya berjalan lancar dan sukses, tapi kurang teratur sehingga kami para anggota OSIS harus pulang cukup malam. Ketika briefing sebelum pulang sekitar jam setengah 8 aku merasakan handphoneku bergetar, ternyata ada satu pesan dari Ale. Aku bingung jarak kami hanya sekitar 4 meter, mengapa dia mengiriku sms, kutatap wajah Ale tapi dia pura-pura tidak melihat.

     From: Remazki Frale
     Rena, rumah kamu dimana?

     To: Remazki Frale
     Di daerah jalan merak Al, kenapa?

     From: Remazki Frale
     Nanti bareng ya, aku mau kesana, tapi ga tau daerahnya

     To: Remazki Frale
     Hahaha mau kesana tapi masa ga tau sih?

     From: Remazki Frale
     Iya nih, makanya mau bareng kamu. Kalo boleh itu juga

     To: Remazki Frale
     Boleh ko hehe nanti ketemu di gerbang ya

     From: Remazki Frale
     Ok
     Tiba-tiba aku merasa deg-degan, aku tak menyangka malam ini aku akan pulang bersama Ale dengan motornya. Semakin lama aku makin merasa deg-degan, aku belum pernah pulang bersama seorang teman laki-laki selain dia. Aku takut perjalanan ini akan terasa membosankan sampai-sampai aku menyiapkan beberapa pertanyaan untuknya, konyol kan?

     Acara sudah selesai dan waktunya pulang pun tiba, aku langsung menuju gerbang bersama Nina dan Gilang. Aku mencari-cari sosok Ale di sekitar gerbang tapi dia tidak ada, mungkin masih di parkiran.

     “yuk Ren, kita pulang” ujar Nina
     “eh maaf Nin gue ga bareng deh, lu sama Gilang aja” jawabku gugup
     “loh kenapa? Lagian aku sama Gilang ga searah Ren”
     “iya ih gimana sih lu Ren” sahut Gilang
     “gue... pulang sama... Ale”
     “ha? Ale?” ujar mereka bersamaan
     “iya ih selow napa”
     “ciyeee Renaaaaa seneng nih” mereka lagi-lagi bersamaan
     “ih suttt” mukaku mulai merah, tapi untungnya tersamar oleh gelapnya malam.

     Ale datang mendekat kearah kami dengan menggunakan motornya, tapi dia tidak berkata apa-apa, hanya diam, bahkan sedikit menunduk.

     “em yaudah deh gue pulang duluan ya, hati-hati Ren” Nina mulai meninggalkan kami, dan di susul oleh Gilang.
     “gue juga mau pulang, jagain anak orang Al”
     Ale melihat kearah Gilang dan mengangguk.
     Karena Ale hanya diam, akhirnya aku memutuskan untuk membuka pembicaraan.
     “mau pulang kapan Al?”
     “sekarang aja”
     “yaudah”
     Aku menaiki motornya dengan gugup, aku merasakan tanganku sedikit gemetar
     “kasih tau arahnya ya aku bener-bener ga tau loh”
     “siap Al hehe”

     Ternyata perjalanan ini jauh dari membosankan, sepanjang jalan aku tak henti tersenyum menikmati perjalanan sambil mengobrol dengan Ale. Kutanyakan mengapa ia pergi ke daerah dekat rumahku semalam ini padahal arah rumahnya berlawanan, dia tidak memberitahu, dia hanya bilang ada urusan. Aku sudah menawarkan untuk mengantarkannya terlebih dahulu, tapi dia ingin mengantarkan aku baru menyelesaikan urusannya. Aku bilang pada Ale kalau aku tidak keberatan di turunkan di jalan, karena rumahku cukup jauh, aku kasihan dia harus pulang terlalu malam. Tapi dia tetap ingin mengantarkanku.


bersambung...

0 comments:

Post a Comment